sejak dia lahir dia sudah dikaruniai oleh kutukan,terlahir
sempurna dengan sedikit kelebihan, dia tidak tau apa maksud dari semua itu,
berharap melihat cahaya ternyata samar yang terdampar, mencoba untuk berlalu
tapi malah semakin pilu,semua orang terbahak melihat kelebihanya. dia coba
bersabar tanpa gentar tapi tetap saja pada akhirnya dia terkapar.
malu ,resah, gelisah semakin merambah, semakin dalam semakin
dasar dia terhempas,sabar itu mudah tapi ikhlas sulit untuk di gambarkan.
dia mencoba normal seperti yang lainya dengan rasa takut
yang berlebihan di dalam jiwa remuknya. saat semua berlalu muncul hal yang tak
terduga semua orang menertawakan darimana dia berasal lukanya bernanah
kembali,bukanya semakin kuat dia melangkah malah semakin jatuh tersungkur dia
merangkak di setiap harinya.
lamunan,hayalan,cacian,kutukan,rasa benci semakin memuncak.
dia tidak kuat menahan tekanan terkecil sekalipun. di saat semua orang akan
menjadi tegar, dia semakin terlempar jauh dari kehidupan nyata.
hanya pemilik surga yang menyayanginya melibihi siapapun,
membuatnya tersenyum, membuatnya merasa punya kehidupan, walau terkadang dia
tidak sadar ada yang menyayanginya dari lahir sampai ajalnya kelak.
di saat dia mendapatkan kehidupan yang selayaknya si pemilik
surga jadi penghuni surga, dia terhenyak dikala ia tersadar, dia mencari, dia
teringat, dia menangis sekencang-kencangnya, dia memaki si penguasa ajal dari
terbit hingga terbenam ; “KENAPA?”
bertahun-tahun harapan hilang oleh sedetik ajal, dia
berpikir mungkinkah ada emas digundukan sampah?
terkadang dia tersadar bahwa hidup tanpa rasa syukur itu
salah, tapi di saat sepi menghantui, di saat kenangan membayang hatinya melebur
kelam, hanya sumpah serapah yang dia ucap, jeritan-jeritan nada terluka, hampa.
kini dia terpuruk tak berarti, rasa sesal,benci,takut,marah
berkecambuk di dalam hatinya, dia berharap ada yang menyadarkannya dan ada yang
mengajarinya cara bersyukur sebelum si penguasa ajal menunjukan kasih
sayangnya yang di luar nalar...



