Selasa, 31 Januari 2012

Cacat di Jiwa



sejak dia lahir dia sudah dikaruniai oleh kutukan,terlahir sempurna dengan sedikit kelebihan, dia tidak tau apa maksud dari semua itu, berharap melihat cahaya ternyata samar yang terdampar, mencoba untuk berlalu tapi malah semakin pilu,semua orang terbahak melihat kelebihanya. dia coba bersabar tanpa gentar tapi tetap saja pada akhirnya dia terkapar.
malu ,resah, gelisah semakin merambah, semakin dalam semakin dasar dia terhempas,sabar itu mudah tapi ikhlas sulit untuk di gambarkan.
dia mencoba normal seperti yang lainya dengan rasa takut yang berlebihan di dalam jiwa remuknya. saat semua berlalu muncul hal yang tak terduga semua orang menertawakan darimana dia berasal lukanya bernanah kembali,bukanya semakin kuat dia melangkah malah semakin jatuh tersungkur dia merangkak di setiap harinya.
lamunan,hayalan,cacian,kutukan,rasa benci semakin memuncak. dia tidak kuat menahan tekanan terkecil sekalipun. di saat semua orang akan menjadi tegar, dia semakin terlempar jauh dari kehidupan nyata.
hanya pemilik surga yang menyayanginya melibihi siapapun, membuatnya tersenyum, membuatnya merasa punya kehidupan, walau terkadang dia tidak sadar ada yang menyayanginya dari lahir sampai ajalnya kelak.
di saat dia mendapatkan kehidupan yang selayaknya si pemilik surga jadi penghuni surga, dia terhenyak dikala ia tersadar, dia mencari, dia teringat, dia menangis sekencang-kencangnya, dia memaki si penguasa ajal dari terbit hingga terbenam ; “KENAPA?”
bertahun-tahun harapan hilang oleh sedetik ajal, dia berpikir mungkinkah ada emas digundukan sampah?
terkadang dia tersadar bahwa hidup tanpa rasa syukur itu salah, tapi di saat sepi menghantui, di saat kenangan membayang hatinya melebur kelam, hanya sumpah serapah yang dia ucap, jeritan-jeritan nada terluka, hampa.
kini dia terpuruk tak berarti, rasa sesal,benci,takut,marah berkecambuk di dalam hatinya, dia berharap ada yang menyadarkannya dan ada yang mengajarinya cara bersyukur sebelum si penguasa ajal menunjukan kasih sayangnya yang di luar nalar...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar